Dimana kalian belajar mati rasa?
Annyeong~
Kali ini saya mau curhat lagi nih *reader: curhat mulu luuu* yah bukan curhat sih sebenernya, cuma mengungkapkan apa yang saya pikirkan, hoho. *ngeles*
Ehem. Jadi ini bermula ketika saya sedang mengikuti mata kuliah anatomi & fisiologi. Saat itu dosen saya memang sedang menerangkan, tapi banyak mahasiswa (termasuk saya) yang tidak memperhatikan. Habis, kalo menurut saya sih (saya nggak tahu apa teman-teman saya berpendapat sama juga), si dosen saya itu suaranya pelan dan mata kuliah yang diajarkan susah, 90 persen isinya istilah latin tentang bagian tubuh manusia dan fungsinya, dan kebetulan juga materi powerpoint yang ditampilkan itu pakai bahasa inggris pula. Tambah males deh saya (ampun, Pak Kris...)
Yah, intinya waktu dosen saya lagi menerangkan ini itu, sementara para mahasiswa malah banyak yang malah asik sendiri. Ada yang malah ngobrol sendiri (maksudnya ngobrol sama temen tentu saja, kalo ngobrol sendiri mah gila dong), mengerjakan tugas mata kuliah lain, atau ngantuk (saya termasuk golongan yang ini). Terus, sepertinya dosen saya berhenti sebentar dan justru itu bikin saya jadi memusatkan perhatian kembali ke beliau. Terus beliau ngomong sesuatu, yang saya nggak begitu ingat detilnya sih karena udah agak lama, tapi yang saya inget sih kira-kira begini, “Sejak awal saya tahu kalau kalian sepertinya memang tidak ada niat untuk memperhatikan kuliah saya. Tapi apa kalian tahu? Kalau kalian begini terus, suatu saat kalian akan membunuh orang.”
Tentu saja saya dan teman-teman langsung terdiam. Kemudian dosen saya yang juga berprofesi sebagai dokter itu melanjutkan penjelasannya, kalau beliau sudah berkali-kali mendapati pasiennya yang masuk rumah sakit justru gara-gara obat yang dia minum dari apotek. Yah mungkin masih bisa dimaklumi kalau si apoteker memang khilaf, toh dia juga manusia biasa. Tapi dosen saya bilang, sekali waktu dia pernah mencoba ngetes si apotekernya. Saya lupa gimana cara ngetesnya sih, tapi pokoknya kesimpulannya memang si apoteker itu nggak becus. Lalu dengan nada setengah bercanda si dosen saya bilang, ‘lah kalau kamu salah ngasih obat terus pasien kamu mati gimana?’ Tanpa diduga si apoteker menjawab sambil cengengesan, ‘ya kan kalo dia udah mati nggak bakalan bisa protes toh, dok.’
“Saya tertohok. Saya benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya seorang tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas nyawa orang lain bisa berkata seperti itu―terlebih menjadikannya sebagai bahan candaan? Apa dia tidak punya perasaan? Demi Tuhan, dimana kalian belajar untuk menjadi mati rasa seperti itu?”
Sungguh, kalimat terakhir dosen saya barusan benar-benar menohok saya, tepat di ulu hati. Astaga, saya benar-benar jadi takut. Apa selama ini saya juga sudah mulai jadi mati rasa? Saya benar-benar jadi merinding. Seisi kelas juga jadi hening sama sekali.
“Sikap kalian yang tidak menghargai juga sudah mencerminkan bagaimana sikap kalian di masa depan nanti. Kuliah bukan sekedar untuk menimba ilmu akademis, tapi juga untuk perilaku kalian―terlebih kalian nantinya akan menjadi tenaga kesehatan yang bertanggung jawab terhadap nyawa pasien. Kalau untuk sekedar mengikuti kuliah saja kalian seperti ini, bagaimana kalian menghadapi dunia luar nanti? Kalau sekedar menghargai dosen saja kalian tidak sudi, apa kalian nanti juga akan tidak peduli pada pasien kalian? Bukan mustahil nanti kalian benar-benar akan membunuh orang.”
Lagi, serentetan perkataan dosen saya barusan benar-benar membuat hati saya mencelos. Bukan karena nggak habis pikir sama apoteker nggak becus yang diceritakan dosen saya tadi, tapi saya jadi nggak yakin sama diri saya sendiri. Ya Tuhan, ternyata saya sudah mengambil jurusan yang tanggung jawabnya sangat berat. Saya benar-benar jadi merinding luar biasa. Saya benar-benar jadi meragukan diri saya sendiri, apa saya sanggup mengemban tanggung jawab itu? Selama ini kuliah saja saya masih malas-malasan, terlebih ini bukan jurusan yang sebetulnya saya inginkan, tapi toh saya tetap menjalaninya juga. Intinya saya memilih jurusan ini bukan dari hati saya sendiri. Saya takut alasan inilah yang nantinya membuat saya jadi asal-asalan. Saya―demi apapun―tentu saja nggak ingin nantinya jadi tenaga kesehatan yang bukannya menyembuhkan tapi malah membuat sakit, atau bahkan membunuh orang. Naudzubillah...
Jadi saya pikir, saya masih punya dua pilihan, menekuni jurusan saya di bidang farmasi dengan sungguh-sungguh, atau pindah ke jurusan lain saja daripada ragu-ragu. Sejujurnya, saya memang masih ragu-ragu sih. Tapi kalau mau pindah, rasanya kok sayang, saya sudah belajar sejauh ini (hei, walaupun saya males-malesan tapi saya juga tetep belajar lho), dan saya juga sudah menemukan teman-teman yang baik disini. Belum tentu kalau saya pindah universitas, saya bisa menemukan teman sebaik dan bisa klop dengan saya seperti mereka. Dan juga karena saya orangnya nggak begitu mau repot, saya pikir pasti bakal merepotkan kalau harus mulai dari awal lagi―ospek lagi, lingkungan baru lagi, adaptasi lagi, dan sebagainya. Jadi berdasarkan alasan-alasan subjektif di atas, saya mempertimbangkan untuk tetap di jurusan ini saja.
Tapi jadinya balik ke masalah awal lagi, apa saya sanggup dengan tanggung jawab mengerikan itu? Maksud saya, kalau saya jadi guru atau jurnalis misalnya, sedikit kesalahan nggak akan membunuh siapapun (yah kecuali kalau kesalahannya ekstrim), paling banter ya dituntut karena mengajarkan hal yang salah atau menyebarkan berita nggak bener. Tapi kan setidaknya nggak sampai menyangkut nyawa orang.
Ah, dan saya berpikir, kalau memang si apoteker itu nggak becus, kenapa dia bisa lulus dan diterima bekerja? Ternyata memang nilai akademis nggak menjamin kemampuan, kawan. Buktinya, semester kemarin IP saya 3,15, tapi kalian bisa lihat kan padahal saya orangnya pelupa dan selalu ragu-ragu begini =_= memang kalau ujian secara tertulis saya bisa dapet nilai bagus karena malemnya saya belajar sampai jungkir balik banting tulang (?). Tapi jujur kalau disuruh praktek di dunia luar, saya masih kalah jauh banget sama teman-teman yang sudah kuliah sambil bekerja, walaupun mungkin IP-nya setara dengan saya.
Yah, saya akui memang saya masih tergolong nggak becus. Tapi untuk sementara ini saya mau menekuni jurusan yang sudah terlanjur saya pilih ini dulu, walaupun belum menutup kemungkinan kalau suatu saat tiba-tiba saya berubah pikiran―siapa tahu, kan? Dan konsekuensinya, berarti saya harus belajar lebih keras lagi, supaya kalau memang saya bakal eksis di bidang ini, saya bisa jadi orang yang benar-benar berguna sesuai bidang saya. J
Wah, tulisan saya jadi gaje begini nih. Dan yang paling penting adalah, semoga apa yang saya tulis ini nggak cuma jadi tekad sesaat saya saja, hahaha *digaplok* Saya akan berusaha, kok! Jadi, doakan saya ya, teman-teman! ^^
Sampai jumpa di postingan selanjutnya! :D
Wa... jadi ini dosen psikopat yang kau ceritain ke aku itu? ._. Sejak kau cerita dia psikopat aku udah suka sih, tapi begitu baca kalo dia bisa ngeluarin kata-kata ampuh kayak gini aku jadi makin cinta~ (?)
ReplyDeleteahahay, kau pasti bisa kok, chi :) emang sih usu yang kukenal itu teledor, clumsy, pikun, nggak becus dan pemales #ditampar tapi selain itu, uschi yang aku kenal itu juga orangnya nggak tegaan :D nah, dengan modal nggak tegaan itu, aku yakin kau pasti menjalankan tugasmu sebagai apoteker dengan amat sangat baik kelak. Hehehe. Jangan pernah takut untuk memulai, usu. Jangan takut juga untuk ngambil resiko. Kalau kau mau belajar, nggak ada yang nggak mungkin kok :) jadi, kembangkan terus sikap nggak tegaanmu itu!!!! XDDDD HIDUP NGGAK TEGAAN!!!! *diusir dari ini blog karena daritadi komen nggak mutu*
ahahah ^^"
ReplyDeleteja-jadi, itu yg kau ingat tentang aku? kok yg diinget yg gak bener semua? =w= *teme: lah emang ga ada yg bener*
kekeke, begitu ya. oke, hidup nggak tegaan! #ngek
tapi yg paling susah itu ngilangin clumsy-nya T_T *cries*
tapi selama kemungkinan belum nol persen, semuanya masih mungkin terjadi! Ya~Ha~! *??*
thanks komennya teme ^^
woo.. cool..
ReplyDelete