This Autumn, an original fiction by me
Ini tulisan dadakan waktu yudha-san cerita tentang karakter dan sekilas plot manga projectnya, saya terinspirasi dari adegan bullying dan jadilah orific ini! yah ceritanya emang beda sih, dan sifat karakternya juga beda, ini cuma ide yang terbersit di pikiran saya aja kok, siapa tau mau dipake buat salah satu adegan :p *ngarep* yah baca aja deh~
characters (c) yudha-san a.k.a Kagimaru Setsuna
-naerossichan presents-
This Autumn
Pukul 7 malam.
Kirei Kokoromaru melangkahkan kakinya hampir tanpa suara. Di sekelilingnya, jalanan juga hening sama sekali. Mungkin karena malam musim gugur ini lebih dingin dari biasanya, jadi kebanyakan penduduk prefektur ini lebih memilih untuk menghangatkan diri di rumah. Ia sendiri juga tidak bermaksud pulang malam, tapi teman-temannya―entahlah apa mereka bisa disebut teman―memaksanya untuk mengerjakan tugas piket hari ini seorang diri. Tentu saja ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakannya.
Klontang. Terdengar suara kaleng ditendang dari tikungan di depannya. Rei―begitulah pemuda 16 tahun itu biasa dipanggil―menghentikan langkahnya. Orang-orang itu lagi.
Rei tahu, kalau ia ingin cepat sampai rumah, maka ia harus melewati tikungan itu. Tapi kalau ada mereka, lebih baik memilih jalan memutar―
“Hei, kau!”
Baru saja ia berbalik, suara itu menghentikannya. Tahu-tahu dibelakangnya sudah ada beberapa berandalan yang dari mulut mereka menguar bau minuman keras.
“Berikan uangmu,”
“Aku tidak punya uang,” jawabnya cepat tanpa menoleh.
Orang yang memanggilnya tadi menggeram, “Sopan sekali kau, anak kecil!” Dia memutar tubuh Rei hingga menghadap kearahnya dan menghempaskannya ke dinding terdekat. “Heh, kalau begitu berikan apa saja yang kau punya!”
Rei menatap orang itu dibalik poni yang menjuntai menutup matanya. “Sudah kubilang aku tidak punya uang,”
“Brengsek!” Satu pukulan mendarat di pipi Rei.
‘DUAK!’ dan satu pukulan menyusul mengenai perutnya, tapi ia tetap bergeming. Ia tidak gemetaran, tapi ia juga sama sekali tidak berniat untuk membalas. Ia seperti... sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Biarkan saja, toh kalau sudah bosan mereka juga akan pergi sendiri. Pemuda berumur 16 tahun itu masih bergeming menatap aspal di bawahnya ketika sebuah pukulan telak mengenai rusuknya, membuat ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur. Ia meringis menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Sudah, kita pergi saja! Bisa repot kalau nanti anak ini mati,”
Benar kan, mereka segera pergi kalau sudah bosan.
Menghela napas sebentar, akhirnya dengan susah payah Rei berdiri. Dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan seorang gadis yang juga menatapnya di balik sebuah pagar rumah tidak jauh dari situ. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, lalu gadis itu berbalik masuk ke dalam rumah. Rei mengernyit. Gadis aneh, batinnya.
Rei memutuskan untuk segera pulang dan berjalan dengan susah payah. Sungguh, dipukul tepat di rusukmu benar-benar membuat sekujur tubuhmu terasa sakit. Ia berjalan sambil sesekali meringis.
“Tunggu!”
Rei menoleh. Gadis itu lagi, dengan kotak obat di tangannya. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu menarik tangannya dan mendudukkannya ke dekat pagar rumahnya. Entah kenapa Rei tidak menolak ketika gadis itu dengan cekatan membersihkan luka di wajahnya, dan memberinya antiseptik. Yang ia lakukan hanya memandangi gadis itu―rambut panjangnya yang diikat berwarna kecoklatan dan wajah seriusnya ketika membersihkan luka.
“Kenapa tadi kau tidak melawan?”
Rei sedikit tersentak. “A-aku... mereka semua berbadan besar, walaupun melawan aku tahu aku tidak akan menang.”
Gadis itu menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Rei. “Kalau kau laki-laki, harusnya kau berani melawan mereka. Walaupun babak belur, walaupun kalah, setidaknya kau masih punya harga diri. Pengecut.”
“Apa?” Rei balas menatap tajam gadis di depannya, “baiklah, lalu kenapa kau mau menolong pengecut seperti aku?”
Tidak ada balasan dari gadis itu, sampai ia membereskan kotak obatnya. “Sudah selesai, sebaiknya kau segera pulang.”
Masih tidak habis pikir, Rei hanya diam menatap gadis itu berjalan kembali masuk ke dalam rumahnya. Sebelum menutup pintu, ia kembali menatap Rei. “Yeah, terima kasih kembali.”
-
Kirei Kokoromaru duduk di bangku pojok depan di kelasnya. Matanya memang mengarah ke buku geografi di hadapannya, tapi pikirannya tertuju ke suatu rumah di jalan yang ia lewati kemarin―dengan gadis aneh sarkastik yang mengobati lukanya. Harus ia akui bahwa gadis itu cantik, bahkan ia bisa mengingat dengan jelas mata emerald gadis itu meski hanya melihatnya di bawah keremangan lampu jalan. Dan jangan tanya berapa kali ia membolak-balik posisi tidurnya semalam gara-gara memikirkan gadis yang baru ditemuinya itu.
“Hei Kokoromaru. Apa maksudnya ini?”
Rei menatap kertas yang disodorkan tepat di depan mukanya. Kayashima Negishi, matematika, nilai E.
“Bukankah aku memintamu untuk mengerjakan tugasku, heh? Kenapa kau tidak mengerjakannya? Sengaja supaya aku tidak naik kelas ya?” Negishi menggebrak meja di depannya. Rei tetap terdiam. Ia tahu ini salahnya, waktu itu ia lupa mengerjakan tugas Negishi karena saat itu ia sedang memperbaiki komputernya yang rusak.
“Ikut aku sepulang pelajaran tambahan,”
Dan begitulah, setelah pelajaran tambahan selesai tanpa memberikan Rei kesempatan untuk kabur (bahkan sebelum Rei berdiri dari kursinya) Negishi dan teman-temannya langsung merangkulnya dan membawanya ke suatu tempat sepi di belakang sekolah. Rei sendiri sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini―dia akan dipukuli lalu ditinggalkan terkapar begitu saja. Mereka tidak akan peduli meskipun di pipi Rei masih terlihat lebam setelah dipukuli preman-preman kemarin. Mereka tidak akan peduli, tidak akan ada yang peduli.
Rei sendiri tidak mengerti kenapa ia diam saja, sementara pukulan dan tendangan silih berganti mengenai tubuhnya yang meringkuk pasrah. Ia hanya berpikir biar saja toh biarpun aku hancur atau mati sekalipun, tidak akan ada yang peduli. Di rumah juga tidak ada yang menunggunya dan menjawab salamnya tiap pulang dari sekolah. Tidak ada yang menanyai bagaimana hari-harinya di sekolah, bagaimana prestasinya selama ini. Pikirannya tetap melayang ke kehidupannya yang ia anggap menyedihkan meskipun pukulan-pukulan itu mulai menimbulkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi entah mengapa dadanya terasa lebih sakit. Sesuatu di dalam sana terasa seperti diigerogoti dari dalam, berbeda dari rasa sakit ketika kau dipukuli. Ia merasa hidupnya begitu menyedihkan.
“Sudah! Kurasa itu saja sudah cukup untuk memberinya pelajaran. Beraninya mempermainkanku, cih...”
Setelah terdengar langkah-langkah kaki menjauh dari tempat itu, Rei membuka matanya. Ia mendudukkan dirinya dengan susah payah, lalu bersandar di dinding terdekat yang bisa ia rasakan dengan punggungnya. Ia menghela napas sebentar, mengambil tasnya yang terlempar ke seberang jalan lalu berdiri dan berjalan pulang. Ia berjalan perlahan, dan ketika sampai di tempat ia dipukuli kemarin, ia berhenti. Matanya menatap intens salah satu rumah yang cukup besar disana, setengah berharap ada seorang gadis berambut cokelat yang keluar dari balik pagar bercat putih itu, menatapnya khawatir lalu mengobatinya. Ah, betapa ia merasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya ketika gadis itu menarik tangannya. Mungkin saja karena itu pertama kalinya ada seseorang yang peduli padanya.
Ya, gadis itu yang sama sekali tidak dikenalnya, peduli padanya. Entah kenapa ia merasa keputus asaan yang tadi melingkupi hatinya sedikit berkurang, tumbuh sedikit harapan disana. Karena gadis itu.
Sekali lagi ia memandangi rumah itu, kali ini sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan langkah ke rumahnya, dan berhenti lagi ketika melihat sesuatu di ujung jalan sana.
-
Hohoemi Kurokawa merengut kesal. Guru lesnya memundurkan jadwal jadi jam tujuh malam, jadi ia terpaksa harus berangkat malam-malam begini. Sebenarnya ia malas berangkat, karena udara musim gugur dingin sekali, tapi karena sebentar lagi ada ujian kenaikan tingkat jadi ia memutuskan untuk berangkat saja.
Gadis itu berhenti ketika di depannya berdiri seorang pria setengah baya dengan botol di tangannya.
“Hei nona~ mau kemana malam-malam begini?”
Kurokawa bergeming, lalu menggeser langkahnya ke samping untuk menghindari pria tadi. Tapi pria itu ikut menggeser tubuhnya sehingga menutupi tubuh mungil sang gadis. Kurokawa akhirnya berbalik untuk mengambil jalan memutar daripada menimbulkan masalah dengan orang ini, tapi pria itu menarik tangannya. Baru saja ia akan menarik tangannya dari genggaman pria itu, sebuah tas menghantam bagian belakang kepala pria itu. Pria itu menoleh dengan geram dan melepaskan tangannya, tapi mata Kurokawa membelalak mengetahui siapa pemilik tas itu.
“K-kau...”
“Kurang ajar!” Pria itu menghantamkan botol yang dipegangnya ke arah pemuda pemilik tas itu, tapi untung ia berhasil menghindar dan botol itu terlempar ke sisi jalan. Melihat pria itu sekarang bertangan kosong, pemuda itu mengambil kesempatan memukul telak rahangnya. Awalnya memang pria itu mengerang kesakitan, tapi kemudian ia balas memukul pemuda itu hingga jatuh terjengkang. Lalu pria itu memukulinya berulang kali sampai pemuda itu tidak sanggup membalas lagi. Akhirnya pria itu mengambil kembali botol minumannya yang terjatuh tadi, dan bersiap menghantamkannya ke si pemuda yang membelalak ngeri di bawahnya, dan―DUAK!
Pemuda itu masih membelalak ngeri melihat pria tadi terjatuh karena tendangan dari samping kepalanya. Dan ia tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak melongo ketika mengetahui bahwa gadis yag ditolongnya-lah yang sudah menendangnya sampai ambruk dalam satu tendangan tadi.
“K-kau... bagaimana mungkin...”
“Jangan remehkan aku, ya. Aku ini ikut les judo, lho,” Kurokawa mengulurkan tangannya untuk membantu pemuda itu berdiri, dan dia menerimanya dengan agak linglung.
“Tapi, kalau kau memang bisa bisa judo, kenapa kau tidak menghajarnya dari tadi?”
Kurokawa menyeringai, “karena aku ingin lihat sampai dimana keberanianmu,” gadis itu tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat pemuda di hadapannya menatapnya bingung. “Kau yang kemarin kan? Tidak kusangka kau cukup berani juga. Kau tidak pengecut seperti yang kukira. Yaaah, walaupun ujung-ujungnya tetap aku yang harus mengobati lukamu, sih...”
Lagi-lagi pemuda itu menurut ketika Kurokawa menariknya duduk di bangku terdekat dan mengobati luka di lengannya. “Kirei Kokoromaru,”
Gadis itu mengernyit, terhenti sejenak dari kegiatannya mengobati luka lebam itu. “Apa?”
“Kubilang, namaku Kirei Kokoromaru,” katanya sambil melihat ke arah lain, menghindari tatapan mata Kurokawa. Gadis itu tersenyum.
“Aku Hohoemi Kurokawa. Jadi, Kirei Kokoromaru-san, sepertinya hari ini aku akan terlambat les judo gara-gara kau... Tapi sepertinya aku tidak keberatan...”
Dan Rei tersenyum, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum yang sangat tulus dari hatinya.
“Arigatou, Kurokawa-san...”
Entah mengapa Rei dan Kurokawa merasa, kalau malam itu musim gugur lebih hangat dari biasanya.
-end-
yah that's it -___-a
what do you think bout this? sebenernya saya udah pernah post ini via facebook, tapi berhubung blog ini sudah lama terlantar akhirnya saya post aja disini buat nambah-nambah entri, wakakak #slapped
see ya! :D
Comments
Post a Comment