Should i stop? Should i keep going?


Halo~ anyeonghaseyo moshi moshi sawadeekap (?)~

Entah sudah berapa abad saya nggak mengunjungi blog ini. Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan studi D3 di sebuah sekolah tinggi farmasi, dengan penuh perjuangan darah dan airmata #ceilah

Seperti yang sudah saya bilang di posting sebelumnya, saya sama sekali tidak pernah berniat untuk masuk ke dunia kefarmasian. Dibilang salah jurusan, tapi tetap aja saya jalani tiga tahun. Dan sekarang saya sudah bekerja di sebuah perusahaan milik negara sebagai assistant apoteker di apotek cabang.

Alhamdulillah semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi kemudian ternyata ayah saya tidak puas kalau saya hanya berhenti sampai jenjang D3 saja. Otomatis saya harus melakukan transfer ke jenjang sarjana... dan kemudian harus menempuh pendidikan profesi apoteker...

Saya tercenung. Masih membekas dalam kepala bagaimana sulitnya jatuh bangun selama enam semester yang baru saja saya jalani. Masih terbayang bagaimana kerasnya upaya saya memberikan sugesti diri sendiri bahwa semuanya akan berlalu, semuanya akan baik-baik saja asalkan saya mau berusaha. Sedikit lagi, selangkah lagi.

Dan sekarang, saya harus masuk ke sana lagi?

Saya bisa paham kenapa orang tua menginginkan saya sekolah lagi. Memang ini semua untuk kebaikan saya, untuk masa depan saya. Saya juga tahu persis ayah adalah orang yang sangat mementingkan pendidikan, meskipun saya adalah anak perempuan, tetap harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

“Bapaknya aja S2 kok, masa anaknya cuma D3? Mumpung bapak masih bisa membiayai, mumpung kamu masih muda, sekolah dulu yang setinggi-tingginya. Kemarin kamu bilang mau kerja dulu, baru setelah itu lanjut kuliah lagi, bapak sudah mengijinkan. Sekarang nggak ada alasan lagi buat nggak kuliah. Anak kan seharusnya lebih tinggi daripada orangtuanya, masa’ malah penurunan jenjang pendidikan,”

Memang dulu ayah saya menginginkan buat langsung lanjut S1 begitu lulus, tapi saya memohon buat istirahat otak dan kerja dulu, saya capek banget pasca ujian KTI, masa sudah harus kuliah lagi dan persiapan skripsi. Bisa gila saya.

Dan ayah mengijinkan, dengan syarat nantinya saya tidak boleh malas kuliah. Padahal saya berharapnya lama kelamaan ayah bakal lupa, dan saya bisa tetap lanjut kerja saja. Ternyata salah besar, akhir tahun ini pendaftaran mahasiswa baru gelombang pertama sudah dibuka dan saya disuruh mendaftar.

Saya tidak bisa mengelak. Dan lagi beberapa saat lalu saya sempat melamar di sebuah rumah sakit swasta besar yang jenjang karirnya lumayan menjanjikan, dan alhamdulillah lolos seleksi dan sudah resmi diterima. Tapi kemudian di surat kontrak tertulis bahwa selama bekerja di sana tidak boleh melakukan studi lanjut.  Izin dari orangtua pun terhambat, dan saya terpaksa mengundurkan diri. Padahal saya sangat sangat ingin masuk ke sana, karena di sana adalah rumah sakit yang sangat menjunjung tinggi nilai keislaman, jadi saya harap kalau masuk kesana saya jadi bisa tobat *eh* maksudnya bisa semakin mendekatkan diri pada Sang Khalik gitu. Tapi ya sudahlah saya sudah memutuskan untuk mundur, daripada nggak dapat restu orang tua.
Itu saja sudah cukup jadi mental breakdown buat saya, dan teman-teman banyak yang menyayangkan kenapa saya harus mundur? Tentu saya jawab dengan alasan saya ingin kuliah lagi. Walaupun ada satu kata dimana bibir saya bergetar mengatakannya, saya ingin kuliah lagi.

Apakah saya ingin?

Tidak, kawan. Saya bohong. Andaikata kalian semua membaca tulisan ini, saya bohong! Saya nggak ingin kuliah lagi, saya nggak tahan kuliah farmasi, saya nggak mau masuk ke sana lagi!

Ingin saya berkata seperti itu, tapi jelas tidak mungkin. Saya tidak ingin mengecewakan orangtua saya. Walaupun selama masa kuliah mereka tidak tahu bagaimana saya sering menangis di bawah selimut, bagaimana saya mati-matian mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya pelajari, bagaimana saya rasanya ingin menampar diri sendiri tiap kali mencuat pikiran untuk berhenti sampai di sini saja. Walaupun begitu, mereka ingin anaknya mendapat pendidikan yang terbaik agar mendapat masa depan yang cerah nantinya. Saya juga mengerti, dengan pendidikan seperti ini, meskipun bekerja di apotek atau rumah sakit, saya hanya akan menjadi asisten apoteker yang kerja dengan sistem shift. Sebagai perempuan, pasti suatu saat saya juga akan berkeluarga, bertanggung jawab mengurus suami dan anak. Apa saya tega kalau misal harus jaga malam di rumah sakit meninggalkan suami dan anak bersama pembantu? Kalau sudah bergelar sarjana dan apoteker, saya bisa mendapatkan posisi yang lebih baik dan jam kerja yang lebih fleksibel.
Hal inilah yang setiap hari, setiap saat, setiap detik saya sugestikan pada diri sendiri. Menderita sekarang tidak apa, pikirkan saja nanti kalau sudah lulus, pasti akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Atau malah mungkin nanti saya bisa mengambil pekerjaan sebagai apoteker penanggung jawab di apotek kecil di pinggir kota, yang saya tidak perlu setiap hari masuk kerja asalkan nama saya terpampang di sana dan ada setiap kali dibutuhkan, sambil bekerja di bidang lain, misalnya seperti cita-cita saya sebagai penulis di media massa atau editor perusahaan publishing. Bukankan itu sangat menyenangkan? Membayangkannya saja saya jadi semangat ehehe.

Tapi yang jadi kendala adalah, apakah saya masih sanggup setelah tiga tahun tertekan dan masih harus tertekan lagi selama tiga tahun ke depan? Orang bilang cintailah bidangmu maka ia akan terasa mudah. Saya sudah berusaha menanamkan itu sejak tiga tahun lalu masuk kuliah tapi tetap saja, apa yang saya pelajari hanya bertahan sampai ujian semester dan setelah itu lalu menguap begitu saja. Seperti hati kecil saya tidak ingin menyimpannya malah justru ingin membuangnya dari pikiran. Saya juga heran dengan pikiran seperti ini kenapa saya bisa lulus, ya? Haha.

Yah kira-kira seperti itulah kegalauan saya saat ini, jadi nanti kira-kira saya bakal lanjut kuliah tidak ya? Bagi yang mau menebak, silakan sms ketik reg spasi—plak-

Oh iya, saya bukan bermaksud menakut-nakuti kalau pembaca ada yang mau masuk farmasi, jangan-jangan kalian malah jadi takut gara-gara saya. Farmasi tidak semenakutkan itu kok, cuma karena ini bukan passion saya jadi rasanya susah banget gitu. Yang pasti kalau kalian mau berusaha, pasti bakal terlewat juga kok J


Akhir kata, terima kasih bagi yang sudah membaca sampai akhir. Kalau ada yang mau memberi masukan atau bertukar pikiran, saya akan sangat senang sekali. Feel free to contact me, okay? Sampai jumpa d postingan selanjutnya~! ^^


Comments

Popular posts from this blog

#KampusFiksi Reguler Angkatan XX, 24-26 Maret di Jogja!

One day in April

B2ST 1st album - Fiction and Fact - On Raining Days lyrics and translation