AKMU's MELTED MV - REVIEW
Assalamualaikum annyeonghaseyo moshi-moshi~
Halo! Pada posting kali ini saya nggak mereview drama,
melainkan sebuah music video. Music videonya siapakah? (ya kan udah keliatan
dari judulnya) (biarin lah biar seru)
AKMU a.k.a Akdong Musician! Jadi ceritanya saya lagi suka
banget sama grup ini, mari kita berkenalan dulu dengan mereka. Akdong Musician (Korean: 악동뮤지션, biasa disingkat AKMU), merupakan grup duo yang debut di bawah YG
Entertainment tahun 2014 ini. Fyi, AKMU ini juga konon katanya merupakan
anagram dari UMAK (dalam bahasa Korea berarti “musik”). Grup ini terdiri dari
dua bersaudara, yaitu Lee Chanhyuk (12 September 1996) dan Lee Soohyun (4 Mei
1999).
Tiga kata buat mereka: brondong brondong jenius!
Disini Lee Chanhyuk berperan sebagai komposer,
pembuat lirik, arranger, gitaris, dan bahkan dia juga menyanyi. Dan sang adik
Lee Soohyun berperan sebagai mainvocal. And i have to admit that their song, their
instrument, their voice are so sweet and beautiful. I listened to their full
album, AKMU-PLAY, and all of them are soooo addicting. Tapi entah karena saya
aja yang memang suka aliran musik seperti ini, atau lagu-lagu mereka yang
memang sebagus itu.
Tapi saya nggak akan membahas semua lagu di album
mereka, nanti postingannya bakal panjang banget. Saya hanya akan membahas salah
satu lagu favorit saya dan music videonya yang begitu bermakna. Yakni track
ketiga dalam album ini, Melted. The song itself is meaningful already, and the
MV is masterpiece. Melted MV ini berkonsep full story, tidak ada satu scene pun
yang memperlihatkan AKMU sedang menyanyi. Dan kalau nggak sambil mendengarkan
lagunya, mungkin MV ini terlihat sangat tidak KPOP sama sekali, baik dari segi
cast nya yang bule semua, setting lokasi, maupun dari segi alur cerita dan
pesan moral yang ditampilkan. Kalau menurut saya malah lebih seperti film
pendek.
Berikut ini MV-nya in case kalian belum nonton, dan
juga terjemahan liriknya.
The
blue ocean that the red sun used to wash its face turns black
The white sky that had clouds and rain and the wind turns gray
I leave the darkness that finds my heart
Even the cold shadow that covers the night starts to harden
The white sky that had clouds and rain and the wind turns gray
I leave the darkness that finds my heart
Even the cold shadow that covers the night starts to harden
If the ice melts, a warmer song would have come out
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold
Why are they so cold
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold
Why are they so cold
The blue ocean that the red sun used to wash its
face
I look at the past warmth that is deeply buried (too late get it out)
I wish the cold in the world of adults would be gone too
I wish the frozen love will melt away now
I look at the past warmth that is deeply buried (too late get it out)
I wish the cold in the world of adults would be gone too
I wish the frozen love will melt away now
I leave the darkness that finds my heart
Even the cold shadow that covers the night starts to harden
Even the cold shadow that covers the night starts to harden
If the ice melts, a warmer song would have come out
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
If the ice melts, a warmer song would have come out
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold
Why are they so cold
But why is the ice so cold? Why is it so cold?
Why are they so cold
Why are they so cold
MV ini dibuka dengan adegan seorang yang sudah
berumur, terlihat keriput di kulitnya, memandang keluar jendela gedung sambil
menggenggam gelas berisi air es.
Kemudian kita dihadapkan kepada
seorang anak muda cute yang berkelana sambil membawa kamera. Dari sini
kita bisa berasumsi bahwa anak muda ini adalah flashback dari si pria berumur
di dalam gedung tadi saat amsih muda, menghadapi kejamnya dunia yang dingin dan
beku, dan perjalanan hidupnya dimana ia bertemu orang-orang dewasa di sekelilingnya
yang membuatnya memahami esensi hidup (halah).
Pada scene awal, anak muda ini
menyetop sebuah mobil dengan seorang bapak di dalamnya. Pada awalnya si bapak
oke-oke saja anak itu menumpang, tapi ketika kemudian si anak mulai mengambil
gambar dengan kameranya dan penasaran dengan box-box barang yang ada dalam
mobil, si bapak merasa terganggu. Dan akhirnya si anak ditendang keluar mobil
di pinggir jalan. Hal ini mungkin bisa menjadi simbolisasi dari sifat anak muda
yang penuh keingintahuan tetapi kita sebagai orang dewasa malah menganggap hal
itu sebagai sesuatu yang mengganggu, bukannya malah membimbingnya menjadi hal
yang baik. Saya sendiri juga kadang merasa risih pada anak yang terus terusan
bertanya, padahal kalau kita memarahinya, justru itu akan menghambat kemampuan
eksplorasinya. Atau bisa juga kita anggap barang-barang dalam mobil itu simbol
dari personal space, dimana orang-orang jaman sekarang sangat tidak suka bila
personal spacenya dimasuki orang lain. Padahal untuk membuat hubungan dekat
dengan seseorang, kita harus saling menyelami personal space satu sama lain,
bukan?
Setelah ditendang keluar mobil, kemudian
si anak muda memasuki sebuah minimarket. Disinilah dia bertemu dengan orang
dewasa kedua yang membuatnya mengenal kata judgement.
Si bapak penjaga toko terus mengawasinya dengan tatapan mencurigakan,
seolah-olah dia nggak bakal mampu bayar mungkin karena pakaiannya yang agak
lusuh, dan memang akhirnya dia membayar dengan uang receh. Tapi setidaknya anak
itu nggak mencuri, bukan? So that’s our social live goes, judgement everywhere.
Kejadian berlanjut ketika ia
melahap makanan yang dibelinya di minimarket sambil mengamati orang-orang di
sekelilingnya. Di sana ia melihat dua pengemis yang berebut barang-barang di
dalam tong sampah, mereka bahkan berebut untuk hal yang sama sekali bukan milik
mereka. Kemudian dua orang ibu yang beradu mulut dengan emosi sementara
anak-anak mereka hanya terdiam sambil menatap satu sama lain. Dan kemudian
penjual balon, penari pantomim, semua orang terlihat memiliki stress mereka
masing-masing. Semua bentuk emosi itu ia abadikan dalam kamera miliknya.
Sampai kemudian kameranya
menangkap ada seorang wanita paruh baya yang terlihat bersedih, tapi kemudian
tersenyum padanya. Wanita itu bahkan membolehkannya masuk ke mobil pribadinya,
memperlihatkan album fotonya, dan membiarkan anak itu memotretnya setelah ia
memakai make-up. Si anak pun memperoleh semangatnya kembali, dengan harapan
wanita ini berbeda dengan orang-orang yang ia temui sebelumnya. Tapi kemudian
wanita itu mengajaknya ke sebuah pub, dan sementara si anak tertidur di salah satu
meja, wanita itu kepincut (?) oleh seorang pria dan kemudian pergi bersama pria
itu, meninggalkan si anak dengan bill yang belum dibayar. Meninggalkan si anak
dengan kekecewaan yang mendalam. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, bahkan si
pemilik pub memukulinya dan merusak kameranya karena tidak bisa membayar bill,
yang berujung dibawa ke kantor polisi.
Dengan wajah babak belur dan
hanya secuil harapan yang tersisa, ia berharap mungkin kantor polisi bisa
memberinya sedikit keadilan. Tapi apa yang ia temukan di sana, hanyalah orang-orang
dengan penuh emosi yang diseret petugas dan petugas kepolisian yang bahkan
tidak emngizinkannya untuk menjelaskan apapun. Kekecewaan tergambar jelas pada
wajah si anak itu ketika si polisi memberikan gestur ‘talk to my hand’. Sampe sini
hati saya udah nyesek huhuhu... i feel you, dek L
Dengan hati yang hancur, ia berjalan
menyusuri semacam terowongan yang sangat angsty (?). Di sini sempat
diperlihatkan kembali si pria berumur yang tadi menggenggam gelas berisi air
es, es-nya belum mencair, malah sepertinya semakin mendingin. Ini kalau mau
dihubungkan dengan perjalanan si anak yang dikecewakan oleh orang-orang di
sekelilingnya yang sedingin es, sih.
Sampai akhirnya ia melihat seekor
anjing, dan ia mencoba ramah dengan anjing itu yang ia harapkan bisa lebih baik
daripada manusia-manusia di sekelilingnya, tapi kemudian si anjing malah
menggonggong padanya. Si anak tertegun. Bagaimana mungkin bahkan seekor anjing
saja bersikap seperti itu padanya, memang ia salah apa? Apa tidak ada lagi
orang baik di dunia ini? Apakah salah aku dilahirkan di dunia ini? (oke ini
lebay maafkan)
But what happened next really
makes my heart hurt. The boy barked back in desperation to the dog. Hati saya
berasa mencelos, haruskah ia bersikap seperti binatang, setelah dikecewakan
oleh orang-orang di sekelilingnya?
Sampai kemudian si pemilik anjing
keluar dari trailernya, mengajaknya masuk, dan memberikan minuman hangat. Terlihat
juga di dalam trailer si pemilik anjing memperbaiki kameranya yang rusak. Disinilah
es dalam gelas si pria berkeriput dalam gedung itu mencair, hanya dengan
kehangatan seseorang saja bisa mengubah hidup seorang pemuda yang sudah terluka
hatinya. That’s how this story ended, finally the boy finds a person who can
make his heart feels warm. Dan pada akhir MV, terlihat gelas berisi es yang
sudah mencair itu, diletakkan di samping kamera tua yang dibawa-bawa si anak
muda. Dari sinilah kita tahu bahwa anak muda ini adalah flashback dari si pria
berkeriput yang sekarang sudah mengenyam kesuksesan, setelah melalui masa muda
yang begitu sulit dan penuh dengan kebimbangan. I looooove the ending.
Dari MV ini, saya paling suka dua
simbolisasi yang digunakan, yakni “ice” dan “camera”. Seperti yang kita tahu,
judulnya sendiri saja “Melted”, dan di lirik lagu juga ada kalimat yang
diulang-ulang yaitu “why are they so cold”. Di MV pun si “es” sangat dibuat
esensial. Dan saya pernah baca, bahwa dalam bahasa Korea, pronounciation “ice”
dan “adults/grown-ups” itu terdengar sangat mirip. Jadi bisa diasumsikan bahwa “ice”
yang dimaksud dalam lirik ini mungkin sebenarnya adalah “adults”. Karena itulah
mereka menggunakan “they” dalam “why are they so cold”, karena ditujukan pada “adults”.
Dan untuk kamera yang dibawa-bawa si anak muda, menurut saya itu bisa
diibaratkan sebagai memori dia, how he capture the world as he grows up. Dan sebelumnya
kameranya dirusak oleh pria pemilik bar, yang akhirnya diperbaiki oleh si pemilik
anjing di dalam trailer hangatnya.
Saya hampir nggak percaya bahwa
lagu se-meaningful ini diciptakan oleh Lee Chanhyuk yang masih berumur 18
tahun, he’s just genius. Dan saya juga mau kasih sepuluh bintang buat yang
bikin MVnya. It’s so meaningful, dude. Saya senang sekali YG Ent menemukan
bakat sebagus ini dan mendebutkan mereka diantara lagu-lagu kpop yang genrenya
itu-itu saja. Lagu bagus, suara oke, pesan moral dapet, sinematografi juga
keren. Kalo kata 2PM, ini 10 points out of ten!
Ah, dan mari berkenalan dengan
aktor cute yang jadi aktor utama dalam MV ini. Namanya Aidan Parker, Canadian,
dan katanya masih SMA. (Btw Kanada mengingatkan saya sama bias saya si leader
yang—ah sudahlah)
Oh iya, review ini tentu saja
bersifat subjektif, interpretasi saya mungkin berbeda dengan interpretasi orang
lain walaupun menonton video yang sama. Jadi kalau kalian punya interpretasi
berbeda yang mungkin malah bisa kita diskusikan bareng, saya bakal senang
sekali. So give me your thought on comments, and lets love AKMU together!
Terima kasih sudah membaca,
sampai jumpa di posting selanjutnya~!












o ya kalau boleh nanyak,cowok yang jadi bintang vidio clipnya itu siapa ya min ?
ReplyDeletenamanya aidan parker kak^^
Delete